Minggu, 30 Januari 2011

Pengorbanan Itu Perlu

Saat pagi di kamar Rifa masih belum nampak sinar matahari menerangi. Pagi itu juga di jalan depan rumah Rifa sudah banyak warga yang mulai berangkat untuk bekerja. Pagi ini rasanya Rifa sangat malas untuk berangkat ataupun beranjak dari kamar. Waktu asyik melamun, terdengar Ibunya memanggil nama Rifa.
“Fa… Rifa… ayo bangun dong… nanti kamu telat loch.. ke sekolah, jangan lupa juga bangunkan adikmu Vero ya…???”
“Iya.. Bu, Rifa sudah bangun kok… !!! “Jawab Rifa.
Rifata Aini, adalah anak pertama dari dua bersaudara dia sering dipanggil Rifa. Sekarang Rifa sudah duduk di kelas 2 SMA. Sedangkan adiknya bernama Vero , Vero sekarang masih duduk di kelas 3 SD. Rifa mempunyai Ibu yang menemaninya saat senang maupun sedih. Ayahnya sudah meninggal saat Rifa duduk di kelas 2 SMP.
Setelah Rifa mandi dan membangunkan Vero, Rifa keluar untuk sarapan.
“Vero mana…??“ Tanya Ibunya .
“Mungkin lagi mandi Bu...!!!”
Setelah Vero datang Rifa berangkat, sebelum berangkat dia sapa Ibu dan Vero.
“Ibu, Vero aku berangkat dulu ya!!!”
“Ya, hati-hati!!!”jawab Ibu Rifa.
Rifa selalu pergi ke sekolah naik angkot, jarak sekolah dengan rumahnya memang agak jauh. Sampainya di sekaloah Rifa langsung saja masuk ke kelas dan menyapa teman-temannya.
“Hey Iren, Putri, Dewi, pagi semua…!!!” Sapa Rifa pada teman-temannya
“Hey juga Fa, sekalian aja kamu sapa tuch teman-teman satu kelas semua” ucap Putri sambil menunjuk ke teman-teman yang lainnya.
“Ya nih, lagi seneng banget kayaknya…bagi-bagi dong” canda Iren pada Rifa.
“Udah deh biasa aja, kalian contoh dong si Dewi kalau pagi belajar gitu” jawab Rifa pada teman-temannya.
“iya dong betul kat Rifa, kalian semua contoh aku dong biar kalian semua pada pintar kayak aku” ejek Dewi pada teman-temannya.
“huh…sombong banget sih…!!!” tegur Rifa dan teman-temannya kepada Dewi.

-----***-----***-----***-----

Setelah selesai mengikuti pelajaran Rifa pulang bersama teman-temanya naik angkot. Tetepi teman Putri sudah terlebih dahulu di jemput oleh orang tuanya.
“ech teman-teman aku duluan ya” sapa Dewi yang memang rumahnya lebih dekat dari sekolah.
“iya wi hati-hati ya” jawab Iren dan Rifa.
“aduh banyak banget ya tugas buat besok Fa…??” ucap Iren memulai pembicaraan.
“iyakah kok aku lupa sama tugas-tugasnya ya..”
“aduhh…kamu itu kapan sih ingat sama tugas kamu”
“ech enak aja aku ingat kok”
“ya udah tugas buat besok apa??”
“hhehhhehhhe”
“malah cengengesan”
Beberapa menit kemudian

“ya udah aku duluan ya” ucap Rifa pada temanya yang masih di dalam angkot.
“oke,,,hati-hati ya…”
“rebes boss”
Sampai di rumah Rifa melihat rumahnya sepi, meskipun dia sudah memanggil ibunya berulang ulang dan berkali kali memanggil Vero. Rifa sangat cemas dan khawatir kepada keluarganya.
Tiba-tiba…
“kak Rifa tadi ibu kak Rifa di bawa ke puskesmas soalnya ibu kak Rifa sakit” ucap seorang anak kecil kepada Rifa.
Kebingungan Rifa terjawab sudah, tetapi kekhawatiran Rifa semakin bertambah saat mengetahui ibunya sakit.
Ibu Rifa memang mempunyai penyakit jantung setelah di tinggal ayahnya, apalagi jika sudah terlalu lelah bekerja. Ibu Rifa memeng harus menafkai kedua anaknya sendirian. Karena keluarga Rifa hanya keluarga biasa-biasa saja, maka ibunya harus bekerja keras sendirian.
Belum sempat Rifa menyusul ke puskesmas, ibu Rifa sudak diantar oleh becak dan bersama Vero adiknya.
“ibu…ibu sudah baikan??” tanya Rifa cemas.
“sudah…ibu sudah mendingan” jawab ibunya masih lemas.
“ya sudah ibu sekarang ke kamar saja diantar Vero…biar Rifa saja yang membersihkan rumah”
Setelah Vero mengantar ibunya ke kamar, Rifa kemudian membersihkan dan membereskan rumahnya.

Keesokan harinya Rifa merasa bingung karena saat ibunya sakit seperti ini, tidak ada yang membiayai hidupnya dan keluarganya. Dari kesadaran itulah Rifa berusaha untuk dapat bekerja. Akhirnya Rifa memutuskan untuk bekerja.
Setelah mencari-cari pekerjaan dan bersusah payah, akhirnya dia bisa bekerja meski hanya sebagai penjaga toko. Rifa hanya bisa bekerja setengah hari saja, tapi itu bukan masalah bagi dirinya maupun pemilik toko. Rifa juga sudah meminta izin kepada ibunya meski awalnya tidak disetujui. Rifa juga berusaha mendapat uang dari beberapa pekerjaannya yang lain seperti menjual jajanan dan nasi bungkus yang dibuat oleh tetangganya untuk di jual kapada teman-temannya ataupun di antar ke beberapa warung.

-----***-----***-----***-----

Saat ini adalah liburan semester bagi Rifa dan teman-temannya dan seluruh temannya di sekolahnya.
“fa mau kemana nih liburan” tanya Putri kepada Rifa.
“iya fa jalan bareng-bareng yuk…” ucap Iren.
“hey,,,fa” kata Dewi sambil mendorong tubuh Rifa.
“hey…ada apa sih” jawab Rifa yang tersadar dari lamunannya.
“kamu tuh….melamun terus kenapa, kamu tuh liburan mau kemana?”tanya iren.
“oohhh…aku, aku sihh mau kerja”
“hhaaaaa” kaget teman-temannya.
Setelah menceritakan semua hal kepada teman-temannya Rifa merasa lebih tenang.
“oohh…jadi begitu, ya udah kita semua bisa bantu kok” ucap putri
“Bantu apa?”
“ya Bantu kamu dapat duit, udah deh tenang aja”
“kalian semua aneh, tau nggak”
“hhheehhheee”
Saat di rumah ibu menyuruh Rifa untuk menjemput adiknya di rumah budhe yang tidak jauh dari rumah Rifa.
“Malam budhe” ucap Rifa
“Iya malam… eh Rifa pasti mau jemput Vero ya”
“Iya budhe!!!”
“Vero…Vero kamu di jemput tuh sama kak Rifa” ucap budhe memanggil Vero.
“Iya… budhe!!” kata Vero dari dalam
Setelah keluar Rifa dan Vero mengucapkan salam dan kemudaian pulang ke rumah. Sampai di rumah, setelah mengantar Vero, malam itu juga Rifa pergi ke apotek untuk membeli obat Ibunya dengan uang tabungannya.
Setelah selesai membeli obat Rifa berjalan menuju rumah. Rifa melihat seorang laki-laki berjalan lunglai seperti orang sedih. Berselang beberapa menit dia lihat laki-laki itu akan tertabrak mobil.
Kemudian Rifa berlari dan mendorong laki-laki tersebut agar tidak tertabrak sampai kepalanya keluar darah. Malah waktu itu Rifa yang tertabrak tapi syukur Rifa masih hidup. Kedua kaki dan tangannya mengeluarkan darah. Sedangkan kepalanya hanya ada sedikit luka, tiba-tiba dengan tidak jelas dia lihat seorang lelaki menghampiri Rifa dan menarik tangannya yang masih mengeluarkan darah. Dia menyuruh Rifa untuk berdiri dan dia membantu Rifa untuk berdiri tetapi kakinya benar-benar sakit. Dia memarahi Rifa dan bilang
“aduh…kamu itu sebenarnya pura-pura bodoh apa emang bodoh beneran sih ” setelah itu Rifa benar-benar tidak ingat lagi apa yang terjadi padanya.
Saat Rifa bangun dia sudah ada di rumah seseorang, dia melihat wajah seorang ibu.
“kamu sudah bangun nak???” tanyanya pada Rifa.
“o…o…iya sudah!!!” jawab Rifa dengan lemas.
“kalau kamu masih sakit tidur saja lagi!!!” ucapnya lembut.
“maaf bu kalau boleh tau saya ada di mana ya???”
“kamu tenang saja di sini, kemarin anakku yang membawamu ke sini!!”
“tapi siapa?”
Rifa sangat bingung sekali dia lihat kaki, tangan, dan kepalanya sudah di perban dan tidak mengeluarkan darah lagi. Ibu itu bilang bahwa anaknya masih sekolah, mungkin sebentar lagi dia juga pulang.
Beberapa menit kemudian anak ibu itu datang, Rifa ingin mengucapkan banyak terima kasih padanya karena sudah menolongnya. Dia membuka kamar yang Rifa tempati bersama ibunya dia masuk ke kamar itu.
Ternyata anak ibu itu yang kemarin hampir saja tertabrak mobil, namanya Arfan ibu itu sendiri yang bilang pada Rifa.
“terima kasih ya kamu kemarin udah nyelamatin aku”
“tapi bukannya kamu kemarin marah-marah sama aku kenapa sekarang jadi baik gini sih”
“iya… iya… nggak usah diungkit deh sekarang aku cuma pengen ngucapin makasih ke kamu”
“ya udah, tapi sekarang aku mau pulang ke rumah, kamu mau kan nganterin aku please???”
“ya deh sebagai tanda terima kasih ku”
“o ya obat kemarin yang aku bawa kemana ya???”
“o…o obat itu aku tinggalin aja menurutku itu nggak penting”
“apa… ya ampun!!!”
“kenapa emang itu penting banget ya buat kamu”
“ya sudahlah lupain aja”
Beberapa saat kemudain Rifa pulang dengan diantar Arfan. Saat di jalan Arfan mengajak Rifa ke apotek, ternyata Arfan ingin membelikan obat Rifa yang ditinggalkannya kemarin saat di perjalanan Arfan juga bercerita pada Rifa bahwa dia kemarin sangat sedih karena ayahnya telah meninggal. Setelah sampai di rumah Rifa langsung masuk ke rumah, dia lihat Vero tidak sekolah, Vero menemani ibu di rumah. Ternyata ibu Rifa sangat cemas saat anaknya itu tidak pulang semalaman. Rifa kemudian memberikan obat yang di belinya bersama Arfan tadi
“bu, ini obat yang aku beli bersama Arfan tadi”
“iya bu semoga cepat sembuh ya…” ucap Arfan pada ibu Rifa.
“terima kasih ya” ucap ibu Rifa pada Arfan.

-----***-----***-----***-----

Setelah liburan usai Rifa masuk sekolah seperti biasanya. Sekarang Rifa juga berteman baik dengan Arfan. Arfan juga sering membantu Rifa dan keluarganya. Di sekolah, Rifa juga bertemu dengan teman-temannya. Teman-teman Rifa ternyata juga memberikan beberapa uang untuk membantu Rifa dan keluarganya. Dan sekarang Rifa juga tidak perlu lagi sekolah sambil bekerja.